Hidup Bersama Raksasa

Seringkali sistem yang begitu besar memanipulasi kita sedemikian rupa hingga banyak dari kita tidak menyadari itu. Dalam tulisan ini Muhammad Dzikrulloh akan membedah "sistem besar" ini melalui tulisan sporadis yang reflektif.

Muhammad Dzikrulloh

9/4/20251 min read

PPRU2.org - Kita hidup bersama raksasa. Tentu saja raksasa itu bukan sosok manusia tinggi besar seperti yang kita bayangkan selama ini, atau seperti yang ada di film Timun Mas maupun Attack on Titan. Raksasa itu berupa sistem—entah itu sistem sosial, sistem ekonomi, sistem negara, sistem agama, atau bahkan sistem kerja otak manusia yang kotor.

Artinya, ia menyusup ke dalam tubuh kita: lewat pembuluh darah, lewat pencernaan, lewat udara, bahkan lewat pandangan pertama.

Raksasa itu diberi berbagai nama:

  • Dajjal, Firaun, dan Syaitan dalam Islam,

  • Babylon bagi kaum Rastafari,

  • Hierarki dan Kapitalisme bagi kaum anarkis.

Terlepas dari sebutan-sebutan itu, intinya raksasa ini menunjuk pada sesuatu yang sangat besar, menekan, dan manipulatif.

Hadis Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan ciri-ciri Dajjal: buta sebelah mata (mata kanannya), berambut keriting, tubuh besar, dan di antara kedua matanya tertulis kata kafir. Dajjal juga mampu memutarbalikkan kenyataan: surga yang ia janjikan sebenarnya adalah neraka, dan sebaliknya.

Dari sekian ciri tersebut, ada satu sifat yang perlu digarisbawahi: manipulatif.

Jika kita tarik ke realitas hari ini, begitu banyak hal yang bersifat manipulatif—bukan hanya banyak, tapi sudah seperti oksigen, mengalir dalam pembuluh darah manusia. Ia hadir dalam bentuk berita, video, permainan, teknologi, media sosial, gadget, negara, instansi, bahkan teks.

Kita, sebagai umat akhir zaman, sangat rentan dimanipulasi oleh “raksasa” itu.

Melawan Raksasa dengan Cahaya

Islam menawarkan surat Al-Kahfi sebagai benteng. Bukan sekadar membacanya berulang kali, tetapi juga mengambil pelajaran darinya. Ashabul Kahfi—para pemuda yang bersembunyi dalam gua ratusan tahun—mengajarkan kita untuk menjaga jarak dari hal-hal yang bukan ranah kita, dari penguasa zalim, dari rezim, dari raksasa yang menindas.

Imam Al-Ghazali juga pernah mengingatkan:

‎لِأَجْلِ الجُهَّالِ كَثُرَ الخِلَافُ بَيْنَ النَّاسِ
‎وَلوْ سَكَتَ مَنْ لَايَدْرِيْ لَقَلَّ الخِلَافُ بَيْنَ الخَلْقِ

“Karena orang-orang bodohlah banyak kontroversi terjadi di antara manusia. Seandainya orang-orang tanpa ilmu mau diam, niscaya berkuranglah perselisihan di antara manusia.”

Mungkin selama ini kita terlalu berlebihan dalam merespons, meyakini, dan bereaksi terhadap hal-hal yang di luar kendali kita.

Bukan berarti kita diajak untuk acuh atau tidak peduli, tetapi terkadang keberpihakan pada kebenaran dengan cara refleksi jiwa justru memberi dampak yang lebih positif.

Gaya hidup semacam ini punya banyak nama:

  • High Time / Nyimeng bagi Rastafari,

  • Mystical Anarchism bagi kaum anarkis,

  • dan Dzikir bagi kaum Muslim.

-WABS-